Selasa, 31 Agustus 2010

Teori Komunikasi Organisasi Menurut Perspektif Komunikasi dari Para Ahli

____________________________________________________________
Aplikasi teori komunikasi telah banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.
Salah satu teori yang paling banyak diaplikasikan adalah teori komunikasi
organisasi. Teori Asimilasi Organisasi adalah salah satu yang juga dipergunakan
dalam perusahaan. Teori Asimilasi Organisasi merupakan teori baru,
dikembangkan oleh Fred Jablin untuk kepentingan perusahaan, khususnya pada
saat proses penerimaan karyawan baru. Proses penerimaan karyawan baru
membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dari mulai biaya pemasangan iklan, proses
wawancara, tes dan pelatihan karyawan baru. Pertimbangan itulah yang
menyebabkan semua perusahaan berusaha untuk tetap mempertahankan karyawan
yang telah ada. Keberhasilan karyawan baru untuk beradaptasi dan bertahan tidak
hanya ditentukan oleh kemampuan karyawan dalam berkomunikasi tapi juga
ditentukan oleh peran serta pihak perusahaan melalui manajer dengan memberikan
step by step procedure kepada karyawan secara jelas seperti yang dipaparkan
dalam teori ini.
Organizational assimilation theory.
___________________________________________________________

LATAR BELAKANG TEORI

Teori Asimilasi Organisasi menurut
pembagian teori komunikasi berdasarkan
konteks komunikasi termasuk dalam teori
komunikasi organisasi. Masyarakat kita
adalah “masyarakat organisasi”, kita lahir di
organisasi, belajar di organisasi dan
menghabiskan banyak waktu dari hidup kita
untuk bekerja di organisasi (Littlejohn, 2002).
Organisasi adalah sebuah kelompok individu
yang diorganisasi untuk mencapai tujuan
tertentu (Devito, 1997). Jumlah anggota
organisasi sangat bervariasi dari satu
organisasi ke organisasi lainnya. Ada yang
beranggotakan tiga atau empat orang bekerja
dengan kontak yang sangat dekat. Yang
lainnya memiliki seribu karyawan tersebar di
seluruh dunia. Yang terpenting adalah mereka
ini bekerja di dalam struktur tertentu. Individu
di abad ke-21 ini sangat dinamis, masuk dan
keluar dari suatu perusahaan atau organisasi
untuk mencari pengalam baru atau
penghasilan lebih baik bukan hal yang aneh.
Pada saat itulah proses asimilasi terjadi.
Studi komunikasi organisasi merupakan studi
yang interdisipliner. Bidang-bidang studi yang
menggunakan kajian komunikasi organisasi
adalah manajemen, sosiologi, psikologi sosial,
psikologi industri, dan lain-lain. Karena itulah
maka teori-teori komunikasi organisasi
berhubungan dengan ilmu-ilmu lainnya dan
untuk memahaminya perlu dipelajari terlebih
dahulu bagaimana perkembangan komunikasi
organisasi. Komunikasi organisasi banyak
dipengaruhi oleh teori Frederick Taylor (teori
manajemen) dan teori Max Weber (teori
birokrasi) yang melihat bahwa komunikasi
dalam organisasi diatur oleh standar yang
jelas. Tahun 60 dan 70-an berkembang
pandangan organisasi sebagai suatu sistem,
perkembangan selanjutnya tahun 80-an
masyarakat kebingungan dengan rasionalitas
dan objektivitas dalam pandangan sistem dari
sinilah muncul pandangan budaya yang
melihat dalam organisasi terdapat sejarah,
nilai, ritual dan perilaku anggota organisasi.
Yang terakhir adalah Teori kritis dari Morgan
yang meneliti aturan gender, demokrasi dan
struktur partisipasi dalam organisasi.

Dari perkembangan di atas maka muncul
berbagai perspektif tentang organisasi:
1. Sebagai mesin, yang terdiri dari bagianbagian
yang menghasilkan produk atau
jasa
2. Organisme, yang melalui fase lahir,
tumbuh, berfungsi, beradaptasi dan mati
3. Seperti otak, yang melakukan proses
informasi, mempunyai keputusan,
membuat rencana dan terkonsep.
4. Budaya, yang membuat arti, mempunyai
nilai , norma, sejarah dan ritual.
5. Sistem politik, yang mempunyai
pembagian kekuasaan.

Menurut Devito (1997), kita dapat melakukan
pendekatan pada organisasi sekurangkurangnya
melalui empat perspektif, yaitu
Pendekatan Manajemen Ilmiah
Menganggap bahwa organisasi harus
menggunakan metode-metode ilmiah untuk
meningkatkan produktivitas. Berbagai studi
pengendalian secara ilmiah akan
m e m u n g k i n k a n ma n a j e m e n
mengidentifikasikan cara-cara atau alat untuk
meningkatkan produktivitas dan pada
akhirnya akan meningkatkan laba.
Pendekatan Hubungan Antarmanusia
Kepuasan kerja akan mengakibatkan
kenaikan produktivitas. Seorang karyawan
yang bahagia adalah karyawan yang
produktif. Oleh karena itu, fungsi
manajemen adalah menjaga agar para
karyawan terus merasa puas. Fungsi
kepemimpinan sangat penting di sini,
pemimpin menciptakan norma-norma dan
anggota kelompok mengikutinya,
pengendalian kepemimpinan dianggap cara
terbaik untuk meningkatkan kepuasan dan
produksi.

Pendekatan Sistem
Pendekatan sistem menggabungkan unsur
terbaik dari pendekatan ilmiah dengan
pendekatan hubungan antar manusia.
Pendekatan ini memandang organisasi
sebagai suatu sistem di mana semua bagian
berinteraksi dan mempengaruhi bagian yang
lainnya. Organisasi dipandang sebagai
sistem yang terbuka terhadap informasi baru,
responsif terhadap lingkungan, dinamis dan
selalu berubah.

Pendekatan Kultural
Organisasi harus dipandang sebagai suatu
kesatuan sosial atau kultur yang memiliki
aturan tentang perilaku, peran,
kepahlawanan dan nilai-nilai. Organisasi
harus memiliki nilai atau kultur yang
spesifik untuk dianutnya. Tujuan analisis ini
bertujuan untuk memahami bagaimana kita
bisa memahami bagaimana organisasi
berfungsi dan bagaimana hal itu
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh para
anggotanya dalam kultur organisasi itu.
Adapun definisi fungsional komunikasi
organisasi adalah “Pertunjukan dan
penafsiran pesan di antara unit-unit
komunikasi yang merupakan bagian dari

suatu organisasi tertentu.” Kemudian definisi
interpretif komunikasi organisasi adalah
“Proses penciptaan makna atau interaksi yang
merupakan organisasi.” (Pace & Faules,
1998). Intinya bahwa komunikasi organisasi
adalah “perilaku pengorganisasian” yang
terjadi dan bagaimana mereka yang terlibat
dalam proses itu berinteraksi dan memberi
makna atas apa yang sedang terjadi
Sifat penting komunikasi organisasi adalah
penciptaan pesan, penafsiran dan penanganan
kegiatan anggota organisasi, bagaimana
komunikasi berlangsung dalam organisasi dan
apa maknanya bergantung pada konsepsi
seseorang mengenai organisasi.
The Organizational Assimilation Theory
(Teori Asimilasi Organisasi) dari Fred Jablin
pada tahun 1982 berusaha menjelaskan
bagaimana individu sebagai anggota baru
berasimilasi di dalam organisasi dengan
menggunakan komunikasi. Fred Jablin adalah
seorang ahli dalam bidang komunikasi
organisasi yang berasal dari University of
Richmond. Beliau menulis tiga buku dan
kurang lebih 50 artikel yang berhubungan
dengan komunikasi organisasi. Salah satu
tulisannya yang khusus membahas tentang
proses asimilasi dalam organisasi terdapat
dalam buku Communication yearbook 8
halaman 137-163 tahun 1984 dengan judul
“The employment screening interview: an
organ i z a t ion a l assimilation and
communication perspective”.
Teori ini didasari oleh teori sistem, namun
untuk dapat mendefinisikan teori asimilasi
organisasi akan lebih baik apabila kita
membekali diri dengan pandangan scientific
dan humanistic secara sekaligus. Jablin
menggambarkan bahwa terdapat empat proses
yang terjadi pada saat individu memasuki
organisasi baru yaitu tahap sosialisasi awal
(anticipatory socialization), tahap pertemuan
(the encounter stage), tahap perubahan bentuk
(metamorphosis stage), dan tahap keluar dari
organisasi (exit stage).

Menurut Miller (2002), Dalam proses
asimilasi tersebut komunikasi memegang
peranan penting di setiap tahapannya. Pada
tahap sosialisasi awal terdapat komunikasi
selama wawancara, pada tahap pertemuan
terdapat proses mencari informasi, dan tahap
pembentukan terdapat proses pengembangan
aturan organisasi.
ASUMSI TEORI
Pada saat individu memasuki organisasi baru
maka mereka melakukan asimilasi. Menurut
Jablin & Krone dalam buku Communication
Organizational menyebutkan bahwa
“Asimilasi adalah proses behavior dan
kognitif yang terus menerus terjadi pada saat
individu bergabung dalam organisasi,
bersatu atauppun sampai pada tahap
meninggalkan organisasi” (2002). Asimilasi
adalah proses dua arah , di satu sisi
organisasi berusaha mempengaruhi proses
adaptasi individu melalui sosialisasi formal
ataupun informal. Di sisi lain individu
berusaha merubah beberapa aspek dalam
organisasi untuk meningkatkan harapan dan
memenuhi kebutuhannya. Menurut Piaget
(1955) asimilasi adalah “proses kognitif di
mana individu mengintegrasikan
pengalaman baru dengan skema yang telah
ada”. Proses yang terus berlangsung karena
individu senantiasa memproses rangsangan
yang datang padanya. Menurut Piaget,
asimilasi adalah salah satu dari 4 proses
pembelajaran individu, proses yang lainnya
adalah skema, akomodasi dan
keseimbangan.
Ketika individu memasuki organisasi, proses
individu bersatu dengan budaya organisasi,
menyesuaikan aturan dalam organisasi, dan
pada saat keluar dari organisasi dan
memasuki organisasi baru maka proses
asimilasi itu akan terulang kembali.

KONSEP-KONSEP DALAM TEORI
The anticipatory socialization stage
(sosialisasi awal)

Menurut Van Maaren, sosialisasi awal adalah
proses sosialisasi yang terbentuk sebelum
individu memasuki organisasi. Adapun aspekaspeknya
adalah mempelajari pekerjaan,
memperkirakan penghasilan dan mengamati
organisasi tersebut. Sosialisasi awal
merupakan proses individu dalam
mempersiapkan diri untuk masuk kepada
suatu organisasi, komunikasi terbentuk pada
saat rekruitmen atau wawancara. Individu
pada tahap ini mempunyai pengetahuan,
harapan-harapan, serta kepercayaankepercayaan
pada organisasi.
The encounter stage (tahap pertemuan)
“Point of entry”. Menurut Louis tahap
pertemuan adalah pengalaman yang
“kontras”, mengagetkan yang mengharuskan
individu baru mengenal budaya organisasi.
Tahap pengenalan individu tentang organisasi,
individu pada saat masuk pada organisasi
mulai mengenal pekerjaan baru, aturan dan
lingkungan baru. Tahap yang paling
melelahkan dan paling menentukan
keberhasilan individu untuk tahap selanjutnya.
Pada tahap ini individu bisa melakukan
komunikasi informal ataupun formal dengan
cara mencari informasi, orientasi dan lainlain.
The metamorphosis phase (tahap
pembentukan)
Proses individu menjadi “insider” di
organisasi. Individu mulai diterima,
berpartisipasi dengan anggota lain dengan
mempelajari tingkah laku dan sikap baru.
Tahap individu beradaptasi dengan
lingkungan dan kebiasaan-kebiasaan baru
secara lebih mantap. Tahap pertemuan dan
pembentukan mempunyai derajat sama dan
merupakan proses yang terus menerus sampai
pada akhirnya mungkin individu akan sampai
pada tahap empat.
The exit stage (tahap keluar)
Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam
proses asimilasi, tahap di mana individu harus
pindah ke bagian lain tapi masih dalam satu
organisasi atau justru benar-benar keluar dari
organisasi tersebut, dan akan memasuki
organisasi baru karena berbagai alasan. Maka
proses asimilasi pun akan mulai lagi dari awal
dan seterusnya.

Metatheoretical Assumptions
1. Asumsi ontologi (ontologi assumption)
Teori Asimilasi Organisasi memandang
manusia sebagi individu dengan segala
kebebasannya (freewill), punya kebebasan
untuk berasimilasi atau tidak pada saat
memasuki lingkungan baru . Namun tentu saja
keberhasilan berasimilasi sangat dipengaruhi
oleh latihan dan kemampuan individu yang
pada akhirnya menentukan bisa atau tidaknya
individu bertahan dalam organisasi.
2. Asumsi epistemology (epistemological
assumption)
Teori Asimilasi Organisasi menyatakan
bahwa antar individu dan organisasi saling
memengaruhi/saling membutuhkan. Asumsi
epistemologi masih luas dan kabur, hal ini
bisa kita lebih pahami dari sudut pandang
humanistik.
3. Asumsi aksiologi (axiological
assumption)
Teori ini sangat tidak bebas nilai, kita tidak
bisa menyangkal bahwa nilai akan menambah
atau mengurangi cara sosialisasi seseorang,
tidak ada kata netralitas menurut Jablin dalam
menjelaskan teori ini.

PERNYATAAN PENJELASAN
Proses asimilasi individu melalui komunikasi
menurut teori Asimilasi Organisasi melalui
tahap-tahap seperti terlihat pada Tabel

Struktur organisasi ditentukan oleh interaksi
antara anggotanya. Individu mempunyai
hubungan unik dengan orang lain dalam
organisasi (personal network) kemudian akan
terbentuk group network, bahkan inter
organization network (Littlejohn, 2002).
Semua ini dibentuk oleh hubungan antar
individu dalam berbagi informasi atau
membina hubungan pertemanan yang akan
mempengaruhi norma-norma dalam
organisasi.
Pada saat individu baru melakukan asimilasi,
kemungkinan besar dia jadi melakukan proses
identifikasi. Proses ini terjadi pada saat
individu sadar akan adanya kesamaan dengan
individu lain. Dalam hal inilah individu akan
menerima harapan-harapan dan memutuskan
untuk konsisten dengan tujuan organisasi
(Littlejohn, 2002).
Asimilasi dipengaruhi oleh iklim komunikasi
organisasi (Pace & Faules, 1998). Iklim
komunikasi organisasi adalah merupakan
fungsi kegiatan yang terdapat dalam
organisasi untuk menunjukkan kepada
anggota organisasi bahwa orang tersebut
mempercayai dan memberikan kebebasan
pada mereka dalam mengambil risiko,
mendorong dan memberi tujuan dalam
melaksanakan tugas, menyediakan informasi
yang terbuka dan cukup tentang organisasi,
dan lain-lain.
Asimilasi erat kaitannya dengan proses
individu beradaptasi dengan lingkungannya,
menurut Fisher & Adams (1994), Perbedaan
antara manusia dan bukan manusia adalah
dalam merespons lingkungan. Manusia sangat
proaktif pada lingkungan dan mampu bereaksi
terhadap lingkungan atau dengan kata lain
manusia itu sangat aktif. Berbeda dengan
hewan misalnya yang pasif dan perilakunya
sangat tergantung pada lingkungannya.
.
KRITIK PADA TEORI
Teori Asimilasi Organisasi adalah teori
dengan penjelasan yang baik. Konsistensi
analisa adalah salah satu kualitas terbaik.
Teori ini membangun kerangka bagaimana
individu bersosialisasi, bagaimana perasaan
individu di posisi yang berbeda-beda dalam
organisasi. Metodologinya juga sempurna,
teori ini sudah di uji coba dan banyak
membantu kita dalam memahami dunia
organisasi. Jablin menjelaskan harapan
individu di dalam organisasi atau
pekerjaannya melalui proses asimilasi. Teori
ini kuat dan masih sangat relevan untuk saat
ini.
CONTOH APLIKASI TEORI
Teori Asimilasi Organisasi banyak
diaplikasikan dalam dunia kerja perusahaan,
terutama pada saat rekruitmen. Secara umum
semua perusahaan akan mempertahankan
karyawannya selama mungkin untuk
menghemat waktu dan biaya proses
penerimaan dan pelatihan karyawan baru.
Teori ini diberikan pada supervisor atau
manajer yang nantinya akan berhubungan
langsung dengan karyawan baru. Sebetulnya
peran serta atau bantuan dari supervisor
sangat menentukan keberhasilan proses
asimilasi karyawan baru, terutama untuk
tahap pertemuan (encounter stage), karena
banyak karyawan baru merasa takut dan
berat pada saat memasuki tahap ini.
Di perusahaan-perusahaan biasanya
diadakan pelatihan komunikasi bisnis untuk
para supervisor, yang salah satu materinya
tentang Teori Asimilasi Organisasi.
Supervisor sebaiknya berperan dalam proses
karyawan baru melakukan asimilasi, adapun
yang harus dilakukan adalah memberikan
instruksi-instruksi yang tepat, seperti :
1. penjelasan tentang perusahaan,
mencakup visi dan misi perusahaan
2. prosedur kerja (step by step procedure)
yang terperinci
3. memberikan feedback pada hasil kerja
agar karyawan mengetahui kekurangan
dari hasil kerjanya dan mengetahui apa
yang akan dilakukan selanjutnya.
4. memberikan keseimbangan antara
tanggung jawab dan kebebasan
berimprovisasi pada karyawan baru
dalam bekerja.
Dengan cara inilah supervisor bisa
mendukung karyawan baru dalam proses
asimilasi seorang karyawan baru.
Contoh :
A ingin bekerja di perusahaan X, A tahu
betul apa dan bagaimana perusahaan X dari
ayahnya yang bekerja di sana. A merasa
sudah kenal dengan kondisi dan tujuan dari
perusahaan X termasuk cara kerja dan
penghasilan yang akan diperoleh. Ini adalah
tahap anticipatory sosialization.
Pada saat A diterima kerja, dia memasuki
tahap encounter, dia belajar tentang kondisi
dan pekerjaan barunya, pada tahap inilah dia
akan mulai menyadari apakah harapan
sebelum dia bekerja dan setelah bekerja
cocok atau tidak. Ternyata A dapat
menemukan bahwa pekerjaannya sekarang
sesuai dengan harapannya, kemudian dia
dapat bergaul dengan karyawan lain dan
mengembangkan kariernya, maka ia masuk
pada tahap metamorphosis.
Tapi pada saat dia harus dipindahkan ke
bagian lain atau pindah ke perusahaan lain
karena alasan-alasan tertentu seperti mutasi
kerja, karena tidak bisa beradaptasi atau juga
karena harapannya tidak terpenuhi, A
memasuki exit stage dan pada saat dia
bekerja di perusahaan baru dia akan kembali
mengulang tahap-tahap dalam proses
asimilasi. Proses asimilasi selalu dialami
oleh individu setiap memasuki lingkungan
baru apapun. Otomatis proses asimilasi
tidak akan pernah berakhir.

DAFTAR PUSTAKA
Devito, J.A. (1997). Komunikas antar Manusia. Jakarta: Profesional Boks.
Fisher, B.A. & Adams, K.L. (1994).Interpersonal communication.
Mc Graw Hill.
Koentjaraningrat. (1981). Pengantar ilmu antropologi. Bandung : Rineka Cipta
Littlejohn, S.W. (2002). Theories of human communication. New Mexico: Wadsworth.
Miller, K. (2001). Communication theories.Texas: Mc Graw Hill.
Miller, K. (2001). Organizational Communication, Theory and Practice 3th Edition. Wadsworth.
Pace, R.W. & Faules, D.F. (1998).Komunikasi Organisasi. Bandung:Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar